Friday, 24 May 2013

Diabetes Melitus, Laporan Pendahuluan

KONSEP DASAR MEDIS Diabetes Melitus

A. PENGERTIAN

1. Diabetes Melitus ialah suatu penyakit metabolik yang menyebabkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat kekurangan insulin yang efektif. (FKUI, 1988).
2. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit yang disebabkan berkurangnya sekresi atau penggunaan insulin yang mengakibatkan hiperglikemia, glikosuria dan ketosin. (John Rendle, 1994).
3. Diabetes Melitus adalah gangguan yang melibatkan metabolisme karbohidrat primer dan ditandai dengan defisiensi (relatif/absolute) dari hormon insulin. (Dona L. Wong, 2003)
4. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit gangguan pada endokrin yang merupakan hasil dari proses destruksi sel pankreas sehingga insulin mengalami kekurangan. (Suriadi. 2001).
5. Diabetes mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (Greenspan dan Baxter, 1998:754).
6. Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau ketidakadekutan penggunaan insulin. (Engram , 1999:532)
7. Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, Triyanti, Savitri, Wardhani, & Setiowulan, 1999:580).

B. PENYEBAB DAN KLASIFIKASI
Menurut Smeltzer dan Bare (2002:1220), klasifikasi dari Diabetes Mellitus yaitu:
1. Tipe I: Diabetes Mellitus tergantung insulin (insulin-dependent diabetes mellitus [IDDM])
2. Tipe II: Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (non insulin-dependent diabetes mellitus [NIDDM])
3. Diabetes mellitus gestasional (gestasional diabetes mellitus)
4. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
Menurut Corwin (2001:542-546) penyebab dari diabetes mellitus antara lain :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (insulin dependent diabetes mellitus (IDDM))
Diabetes tipe I diperkirakan timbul akibat destruksi autoimun sel-sel beta pulau Langerhans yang dicetuskan oleh lingkungan. Serangan autoimun dapat timbul setelah terinfeksi virus misalnya mumps (gondongan), rubella, sitomegalovirus kronik, atau setelah pajanan obat atau toksin (misalnya golongan nitrosamin yang terdapat pada daging yang diawetkan). Pada saat diagnosis diabetes tipe I ditegakkan, ditemukan antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans pada sebagian besar pasien.
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM))
Diabetes mellitus tipe II tampaknya berkaitan dengan kegemukan. Selain itu, pengaruh genetik yang menentukan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini cukup kuat. Diperkirakan bahwa terdapat suatu sifat genetik yang yang belum teridentifikasi yang menyebabkan pankreas mengeluarkan insulin yang berbeda atau menyebabkan reseptor insulin atau perantara kedua tidak dapat berespon secara adekuat terhadap insulin. Juga mungkin terdapat kaitan genetik antara kegemukan dan rangsangan berkepanjangan reseptor-reseptor insulin. Rangsangan berkepanjangan atas reseptor-reseptor tersebut dapat menyebabkan penurunan jumlah rsesptor insulin yang terdapat di sel-sel. Hal ini disebut docunregulation. Mungkin pula bahwa individu yang menderita diabetes tipe II menghasilkan otoantibodi insulin yang berkaitan dengan reseptor insulin, menghambat akses insulin yang berkaitan dengan reseptor insulin, menghambat akses insulin ke reseptor, tetapi tidak merangsang aktivitas pembawa. Individu tertentu yang menderita diabetes tipe II pada usia muda dan memiliki berat normal atau kurus tampaknya mengidap diabetes yang lebih erat kaitannya dengan suatu sifat yang diwariskan.
3. Diabetes mellitus Gestasional ( Gestasional Diabetes mellitus (GDM))
Penyebab diabetes gestasional dianggap berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energi dan kadar estrogen dan hormon pertumbuhan yang terus menerus tinggi selama kehamilan. Hormon pertumbuhan dan estrogen merangsang pengeluaran insulin dan dapat menyebabkan penurunan responsivitas sel. Hormon pertumbuhan memiliki beberapa efek anti-insulin, misalnya perangsangan glikogenolisis (penguraian glikogen) dan penguraian jaringan lemak. Semua faktor ini mungkin berperan menimbulkan hiperglikemia pada diabetes gestasional.
4. Diabetes mellitus terkait Malnutrisi ( DMTM)
Jenis ini sering ditemukan di daerah tropis dan negara berkembang. Bentuk ini biasanya disebabkan oleh adanya malnutrisi disertai kekurangan protein yang nyata. Diduga zat sianida yang terdapat pada cassava atau singkong yang menjadi sumber karbohidrat di beberapa kawasan di Asia dan Afrika berperan dalam patogenesisnya.
Menurut Waspadji, Sukardji & Octarina (2002:3), faktor pencetus terjadinya diabetes mellitus yaitu :
1. Adanya infeksi cvirus (pada DM tipe I)
2. Pola makan yang salah
3. Minum oobat yang dapat menaikkan kadar glukosa darah
4. Proses menua 5. Stress, dan lain-lain.

C. PATOFISIOLOGI
Seperti suatu mesin, badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan), tepung (asam amino) dan lemak(asam lemak). Dalam proses metabolisme insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa kedalam sel untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah suatu zat atau hormone yang dikeluarkan oleh sel beta di pancreas. Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa itu dimetabolisasi menjadi tenaga. Bila insulin tidak aktif glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadarnya di dalam darah meningkat. Dalam keadaan seperti itu badan akan menjadi lemah tidak ada sumber enegri di alama sel. Inilah yang terjadi pada Diabetes Mellitus tipe I atau IDDM (insulin dependent diabetes mellitus). Pada Diabetes Mellitus tipe II atau IDDM (non-insulin dependent diabetes mellitus) jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang-lubang kunci pintu masuk ke dalam sel.
Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa didalam pembuluh darah meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada DM tipe I. perbedaannya adalah DM tipe II di samping kadar glukosa tinggi, juga kadar insulin tinggi atau normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin.
Penyebab resistensi insulin pada DM tipe II sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor-faktor di bawah ini banyak berperan:
* Diit tinggi lemak dan rendah karbohidrat
* Kurang gerak badan
* Faktor keturunan(herediter)

D. MANIFESTASI KLINIK
Gambaran klinis penyakit diabetes mellitus menurut Corwin (2001) antara lain :
1. Poliuria ( peningkatan pengeluaran urin )
Perubahan yang utama akibat hiperglikemia adalah hiperosmolalitas. Peningkatan konsentrasi glukosa darah dan osmolalitas darah menimbulkan dehidrasi. Apabila konsentrasi glukosa darah melebihi ambang batas ginjal maka terjadi diuresis osmotik. Diuresis osmotik inilah yang menimbulkan peningkatan pengeluaran urin (poliuria).
2. Polidipsia (peningkatan rasa haus )
Polidipsia terjadi akibat volume urin yang sangat besar dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrai intrasel merangsang pengeluaran Anti Diuretik Hormon (ADH) dan menimbulkan rasa haus.
3. Rasa lelah dan kelemahan otot
Rasa lelah dan kelemahan otot terjadi akibat katabolisme protein di otot dan ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi. Gangguan aliran darah yang dijumpai pada klien diabetes lama juga berperan menimbulkan kelelahan.
4. Polifagia (peningkatan rasa lapar )
Polifagia terjadi akibat kehilangan kalori dan starvasi seluler, sehingga selera makan menjadi meningkat dan orang akan menjadi sering makan ( polifagia/Polipagia ).
5. Peningkatan angka infeksi
Peningkatan angka infeksi terjadi akibat peningkatan konsentrasi glukosa di sekresi mukus, gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik.
Menurut Mansjoer, dkk (1999) gejala yang khas pada penderita diabetes mellitus berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas dan berat badan menurun. Gejala yang mungkin dimunculkan klien adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria serta pruritus vulva pada wanita.
Sedangkan menurut Tjokroprawiro (2001) membagi gejala diabetes menjadi 2 yaitu :
I. Gejala Akut
Gejala akut adalah gejala yang timbul langsung atau tidak lama setelah klien menderita diabetes mellitus. Gejala penyakit diabetes mellitus dari satu klien ke klien yang lain tidaklah selalu sama. Gejala yang disebutkan di bawah ini adalah gejala yang umumnya timbul dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi gejala lain. Bahkan, ada klien diabetes mellitus yang tidak menunjukkan gejala apapun sampai pada saat tertentu. Gejala-gejala akut tersebut antara lain :
a. Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi tiga serba banyak yaitu : banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia), banyak kencing (poliuria), atau disingkat “3P” (polifagia, polidipsia, poliuria). Dalam fase ini biasanya klien menunjukkan berat badan yang terus naik ( bertambah gemuk ) karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi.
b. Bila keadaan tersebut tidak cepat diobati, lama kelamaan mulai timbul gejala yang ditimbulkan oleh kurangnya insulin, dan bukan “3P” lagi melainkan hanya “2P” saja (polidipsi dan poliuria) dan beberapa keluhan lain, bahkan kadang-kadang disusul dengan mual jika kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl. Apabila hal tersebut terjadi maka klien akan merasakan : banyak minum, banyak kencing, berat badan turun dengan cepat (dapat turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu), mudah lelah. Bila hal ini tidak lekas diobati maka akan timbul rasa mual, bahkan klien akan bisa jatuh koma (tidak sadarkan diri) dan disebut koma diabetik.
Koma diabetik adalah koma pada klien diabetes mellitus akibat kadar glukosa darah terlalu tinggi, biasanya melebihi 600 mg/dl atau kadar glukosa darah terlalu rendah (hipoglikemia), biasanya kurang dari 60 mg/dl. Dalam praktik, gejala dan penurunan berat badan inilah yang sering menjadi keluhan utama klien untuk pergi ke dokter.
II. Gejala Kronik
Kadang-kadang klien dengan penyakit diabetes mellitus tidak menunjukkan gejala akut (mendadak), tetapi klien tersebut baru menunjukkan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit diabetes mellitus. Gejala ini disebut gejala kroik atau menahun. Gejala kronik yang sering timbul adalah : Kesemutan (semuten ), kulit terasa panas (wedangen) atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit sehingga kalau berjalan seperti diatas bantal atau kasur, kram, capai, mudah mengantuk, mata kabur (biasanya sering ganti kacamata), gatal di sekitar kemaluan (terutama pada wanita ), gigi mudah goyah atau lepas, kemampuan seksual menurun (bahkan impoten), dan para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.

E. PENATALAKSANAAN
Menurut Smeltzer dan Bare (2002:1226) Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes:
1. Diet
Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini:
* Memberikan semua unsure makanan esensial (misalnya vitamin, mineral)
* Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
* Memenuhi kebutuhan energi
* Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengipayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui car-cara yang aman dan praktis
* Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
Contoh menu makanan untuk penderita DM

2 potong roti
2 ons kalkun dan 1 ons keju rendah lemak
selada, tomat, bawang merah
1 sendok the mayonnaise
1 apel ukuran sedang
Teh es
Mustard, acar, parika merah

2. Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi factor risiko kardiovaskuler.
3. Pemantauan Glukosa dan keton
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri penderita diabetes dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara optimal.
4. Terapi insulin
Penyuntiakn insulin dilakukan ke dalam jaringan sukutan dengan spuit khusus insulin dengan sudut penyuntikan 45 atau 90 derajat.
5. Pendidikan
Informasi yang di beriakn mencakup patofisiologi sederhana, cara-cara terapi, pencegahan komplikasi an informasi lainnya seputar Diabetes Mellitus.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Doengoes, dkk. (1999) pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada penderita penyakit diabetes mellitus antara lain :
1. Pemeriksaan darah, yang meliputi:
a. Glukosa darah biasanya meningkat antara 100-200 mg/dl atau lebih. Nilai normalnya: GDP 70-100 mg/dl. GD2 JPP < 140 mg/dl.
b. Aseton plasma atau keton, positif secara mencolok. Normalnya nagatif.
c. Asam lemak bebas. Kadar lipid dan kolesterol meningkat. Nilai normalnya : 450-1000 mg /100ml.
d. Osmolalitas serum meningkat, tetapi biasnya kurang dari 330 mOsm/lt. Nilai normalnya 500-850 mOsm/lt.
e. Elektrolit
Natrium : Mungkin normal, meningkat atau menurun. (Normal : 135-145 mEq/lt).
Kalium : Normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun. (Normal: 3,5-5,0 mEq/lt).
Fosfor : Lebih sering menurun. (Normal 1,7-2,6 mEq/lt).
f. Hemoglobin glikosilat, kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir. ( Normal : P 13-18 gr/dl ; W 12-16 gr/dl ).
g. Gas darah arteri, biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 ( asidosis metabolik ) dengan kompensasi alkalosis respiratorik. (Normal : pH 7,25-7,45).
h. Trombosit darah, Ht mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap stress atau infeksi. (Normal : 150-400 ribu/lt).
i. Ureum/kreatinin mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/ penurunan fungsi ginjal). Nilai normalnya : 110-150 mg/mnt.
j. Amilase darah mungkin meningkat, yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut sebagai penyebab dari diabetes ketoasidosis (DKA). (Normal : 80-180 unit/100ml)
k. Insulin darah mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada (tipe I) atau normal sampai tinggi (tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin dalam penggunaannya (endogen atau eksogen ).
l. Pemeriksaan fungsi tiroid. Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
2. Pemeriksaan urin, yang meliputi :
a. Urin
Gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat. Normal : Bj : 1,003-1,030
b. Kultur dan sensitivitas
Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernapasan dan infeksi pada luka.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi-komplikasi diabetes mellitus dapat dibagi menjadi dua kategori mayor :
1. komplikasi metabolic akut
* Ketoasidosis diabetik (DKA)
* Hiperglikemia
* Hiperosmolar
* Koma nonketotik (HHNK)
* Hipoglikemia
2. Komplikasi kronik jangka panjang
* Mikroangiopati
* Retinopati diabetic
* Nefropati duabetik
* Insufisiensi
vaskular perifer
* Gangren pada ekstremitas
* Insufisiensi serebral
* Stroke
* Makroaniopati

pencarian yang hadir:

laporan pendahuluan ckb,woc febris,laporan pendahuluan vomiting,pathway osteomalasia,lp gangguan mobilisasi,laporan pendahuluan ganglion,lp ganglion poplitea,contoh laporan pendahuluan oksigenasi,lp mobilisasi,penentuan kadar gula dalam urine,lp apendiktomi,laporan pendahuluan post sc,lp disentri,laporan pendahuluan vomiting pada anak,IDENTIFIKASI KADAR GULA DALAM URINE,askep kista ganglion,woc urolithiasis,laporan pendahuluan pnc,lp vesikolithiasis,laporan pendahuluan ureterolitiasis,lp dehidrasi,laporan pemeriksaan trombosit,lp hipoglikemia,laporan pendahuluan bronchiolitis,pengertian glukosa urine,laporan pendahuluan dc,lp dislokasi,penyimpangan kdm diabetes melitus,laporan kasus diabetes melitus,contoh laporan pendahuluan eliminasi,lp hipoalbumin,laporan kasus vesikolithiasis,laporan pemeriksaan kreatinin,askep gadar dm,dasar teori urobilin,laporan pendahuluan laparotomy,woc kolitis,Askep striktur esofagus,kumpulan laporan pendahuluan mobilisasi,lp vomiting pada anak,identifikasi dan penentuan kadar glukosa dalam urin,laporan pendahuluan abses dm,laporan kasus hipoglikemia,lp abses dm,patofisiologi peb,identifikasi kadar glukosa dalam urine,contoh laporan lipid,obs vomitus,anemis grafis,laporan pendahuluan abses mamae,laporan pendahuluan kolesterol,penentuan kadar glukosa dalam urine,laporan pendahuluan ivh,konsep asuhan keperawatan pada pasien kondiloma,contoh laporan kasus diabetes melitus,makalah traksi tulang,analisa data dm,lp empiema,contoh laporan pendahuluan disentri pada anak,laporan pendahuluan snh,contoh makalah tentang diabetes melitus,lp keputihan,askep komunitas diabetes melitus,identifikasi gula dalam urine,contoh makalah penyakit diabetes melitus,makalah kreatinin,woc febris pada anak,konsep dasar diabetes melitus,laporan pendahuluan INJEKSI INSULIN,laporan praktikum kadar lemak,laporan pendahuluan bronkhiolitis,ibu nifas dengan diabetes melitus,askep obs vomitus,kumpulan soapier kebidanan,laporan kasus cholelithiasis,pengertian GEA,kumpulan makalah injeksi intravena,woc diabetes melitus,woc ketoasidosis,laporan pendahuluan empiema,kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler,laporan pendahuluan pemeriksaan gula darah sewaktu,contoh SOAP diabetes melitus,Laporan pendahuluan pemeriksaan gula darah,lp ca hepar,laporan biokimia urin,dasar teori glukosa urin,laporan pendahuluan asidosis respiratorik,patofisiologi appendik,contoh soap dm,contoh kasus hipoglikemia,penyebab wedangen,konsep medis hipoglikemia,laporan kasus urolithiasis,laporan leukosit,laporan pendahuluan injeksi intravena,woc bronkiolitis,laporan praktikum kimia klinik pemeriksaan kadar glukosa,laporan pendahuluan laparatomy,contoh makalah dm,lp disentri pada anak,intervensi dan rasional dm,kegawatdaruratan diabetes mellitus,laporan kardiovaskuler,pengertian amilase,laporan pemeriksaan glukosa darah,laporan tes kehamilan,laporan pendahuluan dehidrasi berat,pemeriksaan urobilin,laporan pendahuluan peritonitis,konsep medis diabetes melitus,contoh laporan pendahuluan hipoglikemia,GE kronis,wedangen di mata,laporan pendahuluan cerumen,contoh laporan pendahuluan tentang diabetes melitus,kumpulan laporan pendahuluan dehidrasi,penyimpangan kdm vesikulolithiasis,makalah bayi dengan ibu diabetes melitus,diabetes melitus perioperatif,konsep segitiga epidemiologi,laporan pendahuluan gula darah sewaktu,pengertian ge kronis,laporan ureum,laporan pendahuluan febris pada dewasa,LAPORAN PENDAHULUAN GAWAT DARURAT DIABETES MELITUS,konsep medik hipoglikemia,pendahuluan trombosit,Kepanjangan dari HIL,askeb anc dm,LP gangguan kebutuhan aktivitas,kepanjangan dari hil hernia,laporan pemeriksaan leukosit darah,makalah tentang kreatinin,kepanjangan HIL penyakit,pendahuluan makalah diabetes,laporan tes glukosa urin,laporan penentuan kadar gula dalam urin,laporan pendahuluan tentang luka tusuk,contoh laporan pemeriksaan tes kehamilan,analisa data diabetes,contoh laporan hasil praktik urine,pendahuluan ekstremitas,laporan pendahuluan luka tusuk a,contoh laporan pendahuluan hipoglikemi,contoh pendahuluan KTI GEA PADA ORANG DEWASA,laporan p dahuluan diabetes melitus,laporan kadar hrmoglobin,contoh laporan pratikum biologi tentang haemoglobin,laporan pemeriksaan kolesterol darah,lAPORAN pemeriksaan kolesterol dalam darah,laporan pendahuluan peritonitis kesehatan,laporan pemeriksaan jumlah leukosit,laporan pemeriksaan gula darah,soap bbl normal,simpul diabetes melitus,laporan pendahuluan gangguan kebutuhan aktivitas,laporanmenentukan gula dalam urine,bab 1 kti stroke,laporan pendahuluan diabetes melitus,arti dari poli dipsi,oobat kurang darah,contoh lp hipoglikemia,contoh laporan tentang leukosit,contoh laporan kadar Hb,lp dm serta pemeriksaan penunjang dan woc yang lengkap,lp kebutuhan dasar manusia pasien dengan dm,laporan pendahuluan poli anak,makalah gadar hhnk,makalah dm,contoh laporan pendahuluan untuk kebutuhan dasar manusia diabetes melitus,contoh laporan leukosit,contoh laporan pemeriksaan jumlah leukosit,Contoh laporan kolesterol,contoh laporan kadar hemoglobin,contoh laporan hasil tes golongan darah,contoh laporan epidemiologi pada kasus diabetes mellitus,pengertian pemeriksaantes kehamilan,pengertian poli dipsi,pengertian vomitus orang dewasa,penjelasan polidipsi,asuhan keperawatan anak dengan bayi baru lahir dengan ibu dm,penyimpangan KDM kasis diabetes melitus,praktikum pemeriksaan kadar ureum,SOP pemeriksaan gula darah sewaktu,trombosit melebihi 450 ribu,askep kegawatdaruratan hiperglikemia,askep kebutuhan dasar nutrisi,askep gangguan kebutuhan aktivitas,bab i pendahuluan dehidrasi berat,biokimia pemeriksaan kadar protein plasma,pengertian endokrin dan metabolik,pemeriksaan penunjang pada penyakit diabetes melitus,pendahuluandm dalam kehamilan,contoh kata pengantar tentang uji golongan darah,penatalaksanaan medis kebutuhan nutrisu,pendahuluan asidosis,pendahuluan dehidrasi,pendahuluan laporan tes golongan darah,penegrtian poli kebidanan

Response on "Diabetes Melitus, Laporan Pendahuluan"