Enzim Asetilkolinesterase, pemeriksaan : sebuah laporan praktikum
BIOKIMIA KEDOKTERAN
BLOK CHEM II
PEMERIKSAAN ENZIM ASETILKOLINESTERASE
(METODE DGKC NEW)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Praktikum
Pemeriksaan Asetilkolinestrase
B. Tanggal Praktikum
C. Tujuan Praktikum AchE
a) Mengukur kadar enzim Asetilkolinestrase dengan metode DGKC new
b) Dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan enzim asetilkolinestrase dalam darah pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal
c) Dapat melakukan diagnosa dini penyakit apa saja yang ditandai oleh hasil aktivitas enzim asetilkolinestrase abnormal / patologis melalui bantuan hasil praktikum
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Asetilkolin adalah transmiter molekul kecil yang khas yang mematuhi prinsip-prinsip sintesis dan pelepasan.2 Kolinesterase adalah enzim golongan hidrolase yang mengkatalisis pembelahan gugus asli dari berbagai ester kolin, termasuk asetilkolin, dan beberapa senyawa terkait. Enzim ini terutama dijumpai terutama dalam serum, hepar, pankreas. Penentuan aktivitas enzim ini digunakan untuk menguji fungsi hepar, sensivitas suksinilkolin, dan menguji apakah terjadi keracunan insektisida organofosfat. ( Dorlan,1998)
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin (From : URL http://wordbiology.com)
Proses pada sambungan neuromuskuler berlangsung dalam enam tahap, yaitu : (Murray, 2003)
1. Sintesis asetilkolin terjadi di dalam sitosol terminal saraf dengan menggunakan enzim kolin asetiltransferase.
Asetil-KoA + kolin –> asetilkolin + KoA
2. Asetilkolin kemudian disatukan ke dalam partikel kecil terikat membrane yang disebut vesikel sinaps dan disimpan dalam vesikel ini.
3. Pelepasan asetilkolin dari vesikel ini kedalam celah sinaps terjadi melalui eksositosis yang melibatkan fusi vesikel dengan membrane presinaps. Pada saat istirahat, sekitar 10.000 molekul transmiter yang mungkin sesuai dengan isi satu vesikel sinaps akan dilepaskan secara spontan sehingga menghasilkan potensial endplate miniatur yang kecil. Kalau sebuah ujung saraf mengalami depolarisasi akibat transmisi sebuah impuls saraf, proses ini akan membuka saluran Ca++ yang sensitive terhadap voltase listrik sehingga memungkinkan aliran masuk Ca++ dari ruang sinaps ke dalam terminal saraf. Ion Ca++ ini memainkan peranan penting dalam eksositosis yang melepaskan asetilkolin (isi sekitar 200 vesikel) ke dalam rongga sinaps.
4. Asetilkolin yang dilepaskan akan berdifusi dengan cepat melintasi celah sinaps ke dalam reseptor ke dalam endplate. Kalau dua molekul asetilkolin terikat pada sebuah reseptor, maka reseptor ini akan mengalami perubahan bentuk dengan membuka saluran dalam reseptor yang memungkinkan aliran kation melintasi membran. Mauknya ion Na+ menimbulkan depolarisasi membran otot sehingga terbentuk potensial endplate. Keadaan ini selanjutnya menimbulkan depolarisasi membran otot didekatnya dan terjadi potensial aksi yang ditransmisikan di sepanjang serabut saraf sehingga timbul kontraksi otot.
5. Kalau saluran tersebut menutup, asetilkolin akan terurai dan dihidrolisis oleh asetilkolinesterase.
Asetilkolin+H2O–> asetat+kolin
6. Kolin didaur ulang ke dalam terminal saraf melalui mekanisme transport aktif dimana protein tersebut dapat digunakan kembali bagi sintesis asetilkolin
TEORI DASAR
Bila nervus vagus dirangsang maka diujung saraf tersebut akan dilepaskan suatu zat aktif yaitu asetilcolin ( Ach ). Dalam ujung saraf kolinergik, Ach disimpan dalam gelembung sinaps dan dilepaskan oleh NAP ( Nerve Action Potensial ). Asetilkolin sebagai transmitter harus diinaktifkan dalam waktu yang cepat. Pada sambungan saraf otot, Ach dirusak secara cepat dalam waktu kurang dari satu milidetik kolinestrase yang tersebar luas di berbagai jaringan dan cairan tubuh, menghidrolisis Ach menjadi kolin dan asam asetat. Ada dua macam kolinestrase yaitu asetilkolinestrase ( AchE ) dan Butirilkolinestrase ( BuchE ). Asetilkolinestrase terutama terdapat di tempat transmisi kolinergik pada membran pra maupan post sinaps dan merupakan kolinestrase sejati yang terutama memecah Ach. BuchE berfungsi dalam eliminasi suksinilkolin suatu obat relaksan otot rangka dan fungsi fisiologi lainnya belum diketahui, sedangkan metakolin dihidrolisis oleh AchE.
Transmisi kolinergik praktis dihentikan oleh enzim AchE sehingga penghambatan terhadap enzim ini misalnya oleh senyawa organofosfat ( sejenis insektisida ) menyebabkan aktifitas kolinergik yang berlebihan dan perangsang reseptor kolinergik secara terus menerus yang diakibatkan oleh penumpukan Ach yang tidak dihidrolisis. Kelompok zat yang menghambat Ach dikenal sebagai anti-kolinestrase ( anti-AchE ). Dalam urutan kekuatan yang meningkat dikenal senyawa – senyawa anti-AchE sebagai berikut : fisostigmin, prostigmin, diisopropilfluorofospat ( DFP ) dan senyawa insektisida organofosfat seperti melation, parathion, dan lain – lain.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. ALAT dan BAHAN
Alat
1. Spuit 3 cc
2. Tourniquet
3. Eppendorf
4. Sentrifugator
5. Pipet ukur 5 ml
6. Yellow tip
7. Mikro pipet ( 10
8. Kuvet
9. Spektrofotometer
10.Plakon
Bahan
1. Sampel darah
2. EDTA
3. Reagen 1
4. Reagen 2 ( standar ChE )
B. TATA URUTAN KERJA
1. Persiapan sample ( Plasma )
a) Diambil darah probandus sebanyak 3 cc dengan menggunakan spuit
b) Darah kemudian dimasukan ke dalam tabung eppendorf yang telah diberi EDTA dan didiamkan selama 10 menit dalam suhu ruangan
c) Darah yang sudah bercampur dengan EDTA disentrifuge dengan kecepatan 4000 rpm selama 10 menit dan kemudian diambil plasmanya untuk sample.
2. Persiapan working reagen :
Reagen ( 2 ) sebanyak 1 ml dicampur dengan reagen (1 ) sebanyak 5 ml kemudian diambil 1 ml (1000µl) untuk test
3. Working reagen sebanyak 1000µl dicampur dengan 10µl plasma diinkubasi pada spektrofotometer selama 3 menit, kemudian langsung diukur absorbansinya dengan panjang gelombang 405 nm selama 60 detik (nilai factor 13160)
4. Hasil yang diperoleh pada spektrofotometer dikalikan 10
C. NILAI NORMAL
Laki – laki : 5.100 – 11.700 U/I
Perempuan : 4000 – 12.600 U/L
BAB IV
PEMBAHASAN
I. HASIL PERCOBAAN
Nama probandus : Dyah Handayani
Umur : 18 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Hasil pengamatan :
1 ml standar 5 ml Reagen 1 Working Reagen
CHE (Reagen 2)
Working Reagen 1cc 10µl serum Larutan sample
Hasil = (15005 : 4000) X 100 % = 375,1 %
II. PEMBAHASAN
Probandus dalam keadaan normal karena batas perempuan ialah 4000-12.600 U/I.
Faktor – factor yang mempengaruhi hal tersebut ialah karena ada anti-AchE yang dapat mengganggu kerja dari AchE tersebut misalnya fisostigmin, prostigmin, diisopropilfluorofospat (DFP). Cara kerja anti-ACHE itu sendiri ialah
1. Sebagai pesaing zat penghambat enzim klasik, senyawa tersebut mempunyai afinitas tinggi untuk sisi aktif, tetapi bukan merupakan substrat. Enzim ditempati oleh zat penghambat untuk waktu yang lama, sehingga enzim tersebut tidak dapat menangani asetilkolin secara efisien akibat fenomena kejenuhan.
2. Zat penghambat mengasilasi hidroksil serina pada AchE, membentuk ester yang lebih stabil daripada asetat. Hidrolisis semua ester ini berlangsung lama sekalipun tidak bolak-balik, jadi asetilkolin tidak dapat dihidrolisis karena sisi aktifnya ditempati secara kovalen
III. APLIKASI KLINIS
A. Myasthenia Gravis
Mekanisme imunogenik memegang peranan yang sangat penting pada patofisiologi miastenia gravis. Observasi klinik yang mendukung hal ini mencakup timbulnya kelainan autoimun yang terkait dengan pasien yang menderita miastenia gravis, misalnya autoimun tiroiditis, sistemik lupus eritematosus, arthritis rheumatoid, dan lain-lain.
Sejak tahun 1960, telah didemonstrasikan bagaimana autoantibodi pada serum penderita miastenia gravis secara langsung melawan konstituen pada otot. Hal inilah yang memegang peranan penting pada melemahnya otot penderita dengan miatenia gravis. Tidak diragukan lagi, bahwa antibody pada reseptor nikotinik asetilkolin merupakan penyebab utama kelemahan otot pasien dengan miastenia gravis. Autoantibodi terhadap asetilkolin reseptor (anti-AChRs), telah dideteksi pada serum 90% pasien yang menderita acquired myasthenia gravis generalisata.
Mekanisme pasti tentang hilangnya toleransi imunologik terhadap reseptor asetilkolin pada penderita miastenia gravis belum sepenuhnya dapat dimengerti. Miastenia gravis dapat dikatakan sebagai “penyakit terkait sel B”, dimana antibodi yang merupakan produk dari sel B justru melawan reseptor asetilkolin. Peranan sel T pada patogenesis miastenia gravis mulai semakin menonjol. Timus merupakan organ sentral terhadap imunitas yang terkait dengan sel T. Abnormalitas pada timus seperti hiperplasia timus atau thymoma, biasanya muncul lebih awal pada pasien dengan gejala miastenik.
Pada pasien miastenia gravis, antibodi IgG dikomposisikan dalam berbagai subklas yang berbeda, dimana satu antibodi secara langsung melawan area imunogenik utama pada subunit alfa. Subunit alfa juga merupakan binding site dari asetilkolin. Ikatan antibodi reseptor asetilkolin pada reseptor asetilkolin akan mengakibatkan terhalangnya transmisi neuromuskular melalui beberapa cara, antara lain : ikatan silang reseptor asetilkolin terhadap antibodi anti-reseptor asetilkolin dan mengurangi jumlah reseptor asetilkolin pada neuromuscular junction dengan cara menghancurkan sambungan ikatan pada membran post sinaptik, sehingga mengurangi area permukaan yang dapat digunakan untuk insersi reseptor-reseptor asetilkolin yang baru disintesis.
BAB V
KESIMPULAN
* ASETILKOLINESTRASE ( AchE ) terdapat di tempat transmisi kolinergik pada membran pra maupan post sinaps dan merupakan kolinestrase sejati yang terutama memecah Ach
* Salah satu Applikasi klinisnya
* ialan myasthenia gravis
DAFTAR PUSTAKA
Kamus Saku Kedokteran Dorlan Edisi 25. 1998. Jakarta : EGC
Kontraksi Otot. 2009. Available From : URL http://wordbiology.com. Article by Farid Fatkhomi
Miastenia Gravis. Available From : URL http://dewabenny.com.
Murray, Robert K. 2003. Biokimia harper. Jakarta : EGC
pencarian yang hadir:
anemia gravis adalah,askep tumor mediastinum,askep anemia gravis pada anak,anemia gravis pada anak,praktikum biokimia plasma darah,laporan praktikum pemeriksaan kadar kolesterol total,laporan praktikum pemeriksaan feses,peranan asetilkolin pada sistem saraf,laporan pemeriksaan leukosit,laporan praktikum biokimia urine,pengertian sinaps,praktikum pembekuan darah,pengertian anemia gravis,laporan praktikum hematokrit,woc miastenia gravis,anemia gravis,laporan pendahuluan myasthenia gravis,laporan pemeriksaan kolesterol,pengkajian anemia,nifas patologis,latar belakang anemia gravis,definisi anemia gravis,asuhan keperawatan anemia gravis,contoh pembahasan laporan praktikum kimia,lp asfiksia berat,laporan praktikum sgot dan sgpt,pathway anemia gravis,contoh soap anemia,praktikum pemeriksaan trigliserida,askep anemia pada orang dewasa,patoflow anemia,peranan asetilkolin,laporan pendahuluan anemia grafis,pemeriksaan pendahuluan kimia dasar,laporan praktikum biokim protein dalam urin,prosedur kerja perbeden,laporan praktikum kreatinin darah,penyakit anemia gravis,mekanisme kerja prostigmin,askep laporan pendahuluan miastenia gravis,laporan pendahuluan asfiksia berat,asuhan keperawatan pada pasien anemia gravis,dasar teori enzim amilase,fungsi enzim asetilkolinesterase,askep kegawatdaruratan anemia,konsep dasar anemia gravis,asetilkolinesterase adalah,laporan praktikum HBSag,laporan pendahuluan pre op sc,laporan pendahuluan miastenia gravis,laporan praktikum pemeriksaan sgot,makalah laporan tes golongan darah,contoh laporan praktikum lipid,pembahasan laporan praktikum spektrofotometri,laporan pemeriksaan enzim,teori pemeriksaan golongan darah,askep miastenia gravis pdf,macam-macam mikropipet,pembahasan mikropipet,laporan perhitungan leukosit,laporan lengkap enzim,pembahasan laporan praktikum protein,mekanisme kerja asetilkolinesterase,peran asetilkolin pada sistem saraf,prostigmin adalah,praktikum protein serum,laporan pendahuluan anemia gravis pada anak,mekanisme miastenia gravis,laporan pendahuluan df,laporan pendahuluan eliminasi buang air besar,praktikum biokimia tentang protein,praktikum interaksi obat,laporan praktikum biokimia pemeriksaan urine,landasan teori test golongan darah,cara kerja prostigmin,laporan pratikum pemeriksaan golongan darah metode tabung,laporan praktikum biokimia serum darah,biokimia pankreas,lp post op app,dasar teori pemeriksaan pendahuluan,dasar teori mikro pipet,Peranan asetilkolin dalam sistem saraf,teori protein serum,diagnosa ca mata,teori tentang pemeriksaan golongan darah,dasar teoriplama darah,dasar teori kimia darah,pembahasan praktikum biokimia protein,pemeriksaan pendahuluan percobaan kimia,blok askep miasthenia gravis,dasar teori tes golongan darah,pembahasan laporan tentang golongan darah,pendahuluanpasien keracunan,dasar teori cek golongan darah,pengkajian AMPLE,laporan praktikum imunologi,peranan asetikolin pada sistem saraf,peranan asetikolin,laporan penyakit PES,mekanisme prostigmin,laporan pendahuluan tiroiditis,pembahasan total protein plasma,landasan teori praktikum golongan darah,pembahasan tes golongan darah,teori cek golongan darah,laporan pendahuluan post app,pembahasan praktikum biokimia uji protein,pembahasan praktikum biokimia tentang protein,laporan pendahuluan post sc mioma uteri,teori plasma darah,tinjauan kepustakaan myasthenia gravis,tinjauan pustaka myasthenia gravis,tinjauan teoritismenentuka golongan darah,landasan teori golongan darah,pendahuluan tiroiditis,pengertian enzim asetilkolinesterase,pembahasan praktikum uji biokimia,Pembahasan tentang golongan darah,dasar teori pengecekan golongan darah,pemeriksaan golongan darah teori,dasar teori penggunaan mikropipet,pemeriksaan protein plasma,patoflow myasthenia gravis,pendahuluan spektrofotometer biokimia,penentuan kadar protein plasma,pembahasan tentang tes golongan darah,dasar teori percobaan darah,dasar teori golongan darah,apa peranan asetilkolin pada sistem saraf,prostigmin cara kerja,teori dasar pemeriksaan pendahuluan,teori golongan darah,teori mikropipet,ANC PATOLOGIS,teori singkat pemeriksaan golongan darah,teori tes golongan darah,tinjauan teori myasthenia gravis,tujuan praktikum patologi Klinik,prostagin adalah,proses kerja asetilkolinesterase,Apa Peranan asetilkolin pada sistem saraf ?,peranan asetikolinpada sistem saraf,peranan asetilkolin pada saraf,apa yang dimaksud dengan asetilkolinesterase,peranan asetilkolin pada sistim saraf,biokimia imunologi,dasar teori biokimia plasma darah,praktikum pembahasanprotein biokimia,artikel dasar teori golongan darah,Apakah Enzim Kolinestrase itu,praktikum traksi,pemeriksaan asetilkolin,pembahasan laporan uji golongan darah,laporan immunologi pemeriksaan golongan darah,laporan pendahuluan pre op,kimia klinik golongan darah,laporan pendahuuan titoiditis,kerja prostigmin,laporan pndahuluan app,laporan praktik dasar teori mikro pipet,kegunaan enzim asetilkolinesterase,judul kti golongan darah,golongan darah simpulan,golongan darah (patologi klinik),laporan praktikum dasar teori mikropipet,laporan praktikum enzim AST,fungsi enzimasetilkolinesterase,laporan pendahuluan post KET,laporan pendahuluan penyakit pes,Kolinestrase adalah,laporan interaksi obat,laporan ca coli,laporan pembahasan golongan darah,laporan pembahasan sel darah,laporan biokimia protein pembahasan,laporan pemeriksaan lengkap golongan darah metode slide,landasan teori tentang kimia darah,laporan pendahulua app,landasan teori tentang golongan darah,landasan teori kimia darah,laporan pendahuluan ca coli pdf,kti miastenia gravis,kontraksi otot dan peran asetilkolinesterase,fungsi enzim estelase,laporan praktikum hepar,mekanisme kerja obat prostigmin,dasar teori tentang uji golongan darah,dasar teori tentang plasma darah,dasar teori tentang golongan darah,dasar teori teknik pemeriksaan golongan darah dan laju endap darah,patofisiologi tiroiitis,dasar teori praktikum golongan darah,laporan pendahuluan Moistani grifis,pembahasan laporan biokimia protein,pembahasan laporan golongan darah,dasar teori praktikum biokimia,dasar teori plasma darah dan praktikum,pembahasan laporan praktikum uji golongan darah,dasar teori uji golongan darah,laporan praktikum biokimia uji protein




Home