Friday, 24 May 2013

Pasien Luka Bakar /Combustio bagian 1, sebuah Asuhan Keperawatan

Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).

Etiologi
1.Luka Bakar Suhu Tinggi(Thermal Burn)
a.Gas
b.Cairan
c.Bahan padat (Solid)
1.Luka Bakar Bahan Kimia (hemical Burn)
1.Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)
1.Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)

Fase Luka Bakar
A.Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
A.Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
1.Proses inflamasi dan infeksi.
2.Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.
3.Keadaan hipermetabolisme.
A.Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
Klasifikasi Luka Bakar
A.Dalamnya luka bakar.

Kedalaman
Penyebab
Penampilan
Warna
Perasaan
Ketebalan partial superfisial
(tingkat I)
Jilatan api, sinar ultra violet (terbakar oleh matahari).
Kering tidak ada gelembung.
Oedem minimal atau tidak ada.
Pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas.
Bertambah merah.
Nyeri
Lebih dalam dari ketebalan partial
(tingkat II)
Superfisial
Dalam
Kontak dengan bahan air atau bahan padat.
Jilatan api kepada pakaian.
Jilatan langsung kimiawi.
Sinar ultra violet.
Blister besar dan lembab yang ukurannya bertambah besar.
Pucat bial ditekan dengan ujung jari, bila tekanan dilepas berisi kembali.
Berbintik-bintik yang kurang jelas, putih, coklat, pink, daerah merah coklat.
Sangat nyeri
Ketebalan sepenuhnya
(tingkat III)
Kontak dengan bahan cair atau padat.
Nyala api.
Kimia.
Kontak dengan arus listrik.
Kering disertai kulit mengelupas.
Pembuluh darah seperti arang terlihat dibawah kulit yang mengelupas.
Gelembung jarang, dindingnya sangat tipis, tidak membesar.
Tidak pucat bila ditekan.
Putih, kering, hitam, coklat tua.
Hitam.
Merah.
Tidak sakit, sedikit sakit.
Rambut mudah lepas bila dicabut.
A.Luas luka bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:
1) Kepala dan leher : 9%
2) Lengan masing-masing 9% : 18%
3) Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
4) Tungkai maisng-masing 18% : 36%
5) Genetalia/perineum : 1%
Total : 100%
A.Berat ringannya luka bakar
Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain :
Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh.
Kedalaman luka bakar.
Anatomi lokasi luka bakar.
Umur klien.
Riwayat pengobatan yang lalu.
Trauma yang menyertai atau bersamaan.
American college of surgeon membagi dalam:
A.Parah – critical:
a.Tingkat II : 30% atau lebih.
b.Tingkat III : 10% atau lebih.
c.Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah.
d.Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.
B.Sedang – moderate:
a) Tingkat II : 15 – 30%
b) Tingkat III : 1 – 10%
A.Ringan – minor:
a) Tingkat II : kurang 15%
b) Tingkat III : kurang 1%
Patofisiologi (Hudak & Gallo; 1997)

Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar

Perubahan
Tingkatan hipovolemik
( s/d 48-72 jam pertama)
Tingkatan diuretik
(12 jam – 18/24 jam pertama)

Mekanisme
Dampak dari
Mekanisme
Dampak dari
Pergeseran cairan ekstraseluler.
Vaskuler ke insterstitial.
Hemokonsentrasi oedem pada lokasi luka bakar.
Interstitial ke vaskuler.
Hemodilusi.
Fungsi renal.
Aliran darah renal berkurang karena desakan darah turun dan CO berkurang.
Oliguri.
Peningkatan aliran darah renal karena desakan darah meningkat.
Diuresis.
Kadar sodium/natrium.
Na+ direabsorbsi oleh ginjal, tapi kehilangan Na+ melalui eksudat dan tertahan dalam cairan oedem.
Defisit sodium.
Kehilangan Na+ melalui diuresis (normal kembali setelah 1 minggu).
Defisit sodium.
Kadar potassium.
K+ dilepas sebagai akibat cidera jarinagn sel-sel darah merah, K+ berkurang ekskresi karena fungsi renal berkurang.
Hiperkalemi
K+ bergerak kembali ke dalam sel, K+ terbuang melalui diuresis (mulai 4-5 hari setelah luka bakar).
Hipokalemi.
Kadar protein.
Kehilangan protein ke dalam jaringan akibat kenaikan permeabilitas.
Hipoproteinemia.
Kehilangan protein waktu berlangsung terus katabolisme.
Hipoproteinemia.
Keseimbangan nitrogen.
Katabolisme jaringan, kehilangan protein dalam jaringan, lebih banyak kehilangan dari masukan.
Keseimbangan nitrogen negatif.
Katabolisme jaringan, kehilangan protein, immobilitas.
Keseimbangan nitrogen negatif.
Keseimbnagan asam basa.
Metabolisme anaerob karena perfusi jarinagn berkurang peningkatan asam dari produk akhir, fungsi renal berkurang (menyebabkan retensi produk akhir tertahan), kehilangan bikarbonas serum.
Asidosis metabolik.
Kehilangan sodium bicarbonas melalui diuresis, hipermetabolisme disertai peningkatan produk akhir metabolisme.
Asidosis metabolik.
Respon stres.
Terjadi karena trauma, peningkatan produksi cortison.
Aliran darah renal berkurang.
Terjadi karena sifat cidera berlangsung lama dan terancam psikologi pribadi.
Stres karena luka.
Eritrosit
Terjadi karena panas, pecah menjadi fragil.
Luka bakar termal.
Tidak terjadi pada hari-hari pertama.
Hemokonsentrasi.
Lambung.
Curling ulcer (ulkus pada gaster), perdarahan lambung, nyeri.
Rangsangan central di hipotalamus dan peingkatan jumlah cortison.
Akut dilatasi dan paralise usus.
Peningkatan jumlah cortison.
Jantung.
MDF meningkat 2x lipat, merupakan glikoprotein yang toxic yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar.
Disfungsi jantung.
Peningkatan zat MDF (miokard depresant factor) sampai 26 unit, bertanggung jawab terhadap syok spetic.
CO menurun.
Indikasi Rawat Inap Luka Bakar
A.Luka bakar grade II:
1.Dewasa > 20%
1.Anak/orang tua > 15%
A.Luka bakar grade III.
A.Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll.
Penatalaksanaan
A.Resusitasi A, B, C.
1.Pernafasan:
a.Udara panas à mukosa rusak à oedem à obstruksi.
b.Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin à iritasi à Bronkhokontriksi à obstruksi à gagal nafas.
1.Sirkulasi:
gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler à hipovolemi relatif à syok à ATN à gagal ginjal.
A.Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.
B.Resusitasi cairan à Baxter.
Dewasa : Baxter.
RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.
Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:
RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x BB x % LB.
Kebutuhan faal:
<>
1 – 3 tahun : BB x 75 cc
3 – 5 tahun : BB x 50 cc
½ à diberikan 8 jam pertama
½ à diberikan 16 jam berikutnya.
Hari kedua:
Dewasa : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin.
( 3-x) x 80 x BB gr/hr
100
(Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.
Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal.
A.Monitor urine dan CVP.
B.Topikal dan tutup luka
Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.
Tulle.
Silver sulfa diazin tebal.
Tutup kassa tebal.
Evaluasi 5 – 7 hari, kecuali balutan kotor.
A.Obat – obatan:
Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang <>
Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur.
Analgetik : kuat (morfin, petidine)
Antasida : kalau perlu
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.Pengkajian
a.Aktifitas/istirahat:
Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.
a.Sirkulasi:
Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
a.Integritas ego:
Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.
Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.
a.Eliminasi:
Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.
a.Makanan/cairan:
Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.
a.Neurosensori:
Gejala: area batas; kesemutan.
Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).
a.Nyeri/kenyamanan:
Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.
a.Pernafasan:
Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).
Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi.
Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).
a.Keamanan:
Tanda:
Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.
Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.
Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal.
Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.
Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.
Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.
Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).
a.Pemeriksaan diagnostik:
a.LED: mengkaji hemokonsentrasi.
b.Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
c.Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.
d.BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
e.Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
f.Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
g.Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.
h.Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.
1.Diagnosa Keperawatan
Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning and documenting patient care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut :
1.Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.
2.Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.
3.Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.
4.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
5.Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.
6.Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena, contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema.
7.Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik (sebanyak 50 % – 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.
8.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.
9.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).
10.Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri.
11.Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi.
Rencana Intervensi

bersambung ke Pasien Luka Bakar /Combustio bagian 2, sebuah Asuhan Keperawatan

pencarian yang hadir:

pathway luka bakar,lp syok hipovolemik,makalah combustio,makalah syok listrik,lp ckb,askep colic renal,pengertian hipoproteinemia,angka kejadian luka bakar di indonesia,askep ckb,woc luka bakar,analisa data luka bakar,keseimbangan pap,askep kolik renal,patofisiologi combustio,laporan pendahuluan colic renal,laporan kasus askep batu ginjal kesehatan,contoh kasus luka bakar,laporan pendahuluan fraktur tibia fibula,resume luka bakar,patofisiologi fraktur klavikula,penyakit combustio,makalah tentang syok listrik,laporan pendahuluan combustio,pathways luka bakar,laporan kasus luka bakar,contoh makalah kondiloma akuminata,contoh kasus askep luka bakar,soap luka perineum,contoh laporan kasus luka bakar,contoh resume keperawatan gawat darurat,penyebab hipoproteinemia,pathway syok kardiogenik,woc syok hipovolemik,contoh kasus pasien luka bakar,studi kasus luka bakar,makalah tentang combustio,patofisiologi hil,fungsi enzim esterase,lp syok,contoh kasus combustio,jurnal combustio,faktor resiko luka bakar,contoh askep syok hipovolemik,pengkajian combustio,patofisiologi gea,prevalensi luka bakar di indonesia,evaluasi fraktur,contoh askep colic renal,kegawatan luka bakar,lp kolik renal,etiologi hipoproteinemia,kejadian luka bakar di indonesia,askep luka tusuk,patway luka bakar,perawatan luka laparotomi,asuhan keperawatan colic renal,askep combustio,format pengkajian diabetes melitus,definisi deformitas,mekanisme terjadinya pucat,laporan pendahuluan gawat darurat luka bakar,studi kasus combustio,format pengkajian luka bakar,resume keperawatan diabetes melitus,contoh resume gadar,patofisiologi anc,deformitas,contoh soal kasus luka bakar,penyebab lata,laporan pendahuluan disritmia,contoh laporan pendahuluan luka bakar,woc syok,analisa data pada pasien luka bakar,CONTOH KASUS askep combustio,definisi gea,pengkajian askep combustio,lp luka bakar pdf,mekanisme kerja albumin,askep trauma listrik,penatalaksanaan mobilisasi,pengertian combustio,contoh format pengkajian luka bakar,contoh soal luka bakar,asuhan keperawatan pada klien dengan ruptur tendon,MEKANISME PUCAT,jurnal keperawatan luka bakar,syok hipovolemik ppt,askep gawat darurat sengatan listrik,contoh askep combustio,trauma termal adalah,intervensi gea,angka kejadian luka bakar,askep kebutuhan mobilisasi,anatomi fisiologi combustio,contoh askeb kondiloma akuminata,penatalaksanaan gangguan kebutuhan nutrisi,artikel ruptur tendon,implementasi pada luka bakar,hil dextra adalah,laporan suti kasus pada pasien dengan combustio grade 2,phatway luka bakar,contoh kti fraktur,penatalaksanaan gangguan mobilisasi,batu di renal dextra,contoh laporan kasus gawat darurat luka bakar,apa itu hipoproteinemia,asidosis metabolik askep,definisi hipoproteinemia,contoh kasus pasien dengan luka bakar,asuhan keperawatan pada pasien ruptur tendon,Arti Hipoproteinemia,cara memeriksa albumin,diagnosa keperawatan ruptur tendon,makalah askep gadar pada luka bakar,luka bakar ppt,GEJALA HIPOPROTEINEMIA,pengkajian anc,askep makalah tentang combustio,perfusi perifer adalah,perawatan luka ca mamae,patofisiologi pola nafas tidak efektif,laporan pendahuluan syok,soal combustio,contoh patoflow combustio,patopisiologi fraktur tertutup,patofisiologi combutsio,contoh deformitas,contoh askep kasus luka bakar,pengertian trauma termal pdf,Combutio ec listrik,patofisiologi luka bakar hudak & gallo 1997,patofisiologi gangguan mobilisasi,patofisiologi integritas kulit,contoh soal combustio,contoh makalah askep luka bakar,makalah keperawatan gawat darurat luka bakar,fungsi savlon,kontraindikasi pemeriksaan hemoglobin,askep elektrical injury,laporan pendahuluan pola nafas tidak efektif,pp penangana gadar luka bakar,luka bakar dan pathway pdf,jurnal keperawatan luka fraktur,jurnal luka bakar pdf,resume gadar luka bakar,konsep keperawatan hipotensi,kasus infeksi perineum,komplikasi ruptur tendon,laporan pendahuluan tentang combustio,askep combustio (fase darurat),laporan pendahuluan dan askep ruptur tendon,definisi neuromuskuler,asuhan keperawatan kolik renal,laporan pendahuluan CA renal,woc kolik renal,laporan kasus askep keluarga hipotensi,patofisiologi kerusakan integritas kulit,faktor resiko fraktur,askep sistem neurovaskuler,Patofisiologi post ket,contoh soal luka bakar elektrik,laporan pendahuluan asuhan keperawatan combustio listrik,patofisiologi pada pasien luka bakar,laporan pendahuluan pada ruptur tendon,patofisiologi bersihana jalan napas,konsep dasar asuhan keperawatan gangguan pola nafas,laporan kasus luka bakar pdf,kontraindikasi pemeriksaan hb,laporan kasus askep luka bakar,konsep patofisiologi,kumpulan soal luka bakar,laporan pendahuluan penyimpangan kdm pada luka bakar,intervensi ruptur tendon,patofisiologi combustio pdf,Defenisi Integritas kulit,metabolisme asidosis,pengkajian ulkus kornea,contoh soal mobilitas dengan askep,nekrotik,contoh soap syok akibat gangguan elektroit,deformitas ekstremitas,definisi perfusi jaringan,gangguan integritas kulit pada post sc,gejala penyakit hipoproteinemia,laporan pendahuluan combustio(luka bakar),laporan referat luka bakar combustio pdf,sap tentang fraktur,PATOFISIOLOGI INTRA NATAL,kasus gadar combustio,lp kolic renal,intervensi resiko injury,intervensi anc,integritas jaringan intervensi jurnal,definisi defermitas,askep klien dengan traksi,pengertian dextra dalam anatomi,askep cedera akibat listrik,askep combustio pdf,contoh kasus askep pasien luka bakar,askep cumbustio

Response on "Pasien Luka Bakar /Combustio bagian 1, sebuah Asuhan Keperawatan"