Friday, 24 May 2013

Konjungtivis vernal bagian 1

BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Permukaaan bola mata dapat memperlihatkan respon imunologi yang menghasilkan reaksi inflamasi konjungtiva. Konjungtivitis vernalis merupakan proses hipersensitifitas tipe I. dinamakan dengan konjungtivitis vernalis, karena banyak di dapatkan pada musim semi atau musim bunga di daerah yang mempunyai empat musim.
Insidensi konjungtivitis vernalis relative kecil, yaitu sekitar 0,1% – 0,5% dari pasien dengan masalah mata yang berobat, dan hanya 2% dari semua pasien yang diperiksa di klinik mata Mediterania. Penyakit ini perlu mendapatkan penekanan khusus. Penyakit ini sering menyerang anak-anak dan dewasa muda yang berusia sekitar 3 -25 tahun dan berlangsung selama 5-10 tahun penyakit ini lebih banyak terdapat pada anak-anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Pada daerah dengan empat musim, penyakit ini sering terjadi pada musim semi, musim panas dan musim gugur. Sedangkan pada daerah tropis terjadi pada musim kemarau . oleh karena itu penyakit ini juga disebut sebagai “catarh musim semi” dan “ konjungtivitis musiman” atau “konjungtivitis musim kemarau”.1-4
Penyakit ini merupakan “ self limiting disease “. Namun ketika reaksi alergi terjadi sebaiknya segera di berikan pengobatan, berupa edukasi dan medikamentosa. Karena penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi.1-3

I.2. Tujuan Penulisan
Pembuatan referat ini bertujuan memberikan ulasan yang menyeluruh namun singkat yang mencakup konjungtivitis vernalis melalui definisi, etiologi, patofisiologi, gejala klinik, diagnosis, komplikasi, dan prognosis.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva, biasanya terdiri dari hyperemia konjungtiva disertai dengan pengeluaran secret. Konjungtivitis dapat disebabkan bakteri, virus, klamidia, alergi toksik, dan molluscum contagiosum. Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan secret yang lebih nyata di pagi hari, pseodoptosis akibat kelopak membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membrane, pseudomembran, granulasi, flikten, mata merasa seperti ada benda asing, dan adenopati preaurikuler. Biasanya sebagai reaksi konjungtivitis akibat virus berupa terbentuknya folikel pada konjungtiva.2
Konjungtivitis vernal adalah suatu bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi hipersensitifitas tipe I yang mengenai kedua bola mata dan bersifat rekuren.1-3
Disebut dengan konjungtivitis vernal karena konjungtivitis ini sering terjadi musiman terutama pada musim panas.1

II.2. Etiologi
Konjungtivitis vernalis terjadi akibat alergi yang non-infeksi, dan pada daerah yang panas, penyakit ini ditemukan sepanjang masa, terutama kambuh pada musim panas. Allergen yang paling sering mencetuskan penyakit ini antara lain serbuk sari bunga, rumput-rumputan dan debu.1-3,7
Penyebab konjungtivitis vernalis adalah reaksi hipersensitifitas atau reaksi alergi pada mata terhadap allergen yang ada di udara dan cenderung kambuh pada musim panas, atau cuaca tertentu dimana antigen banyak tersebar misalnya benang sari bunga, pollens, debu, bulu binatang, tungau rumah dan fesesnya dan sebagainya.11-14, 1,16,17
II.3. Anatomi & Histologi konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata dan permukaan anterior sklera. Konjungtiva terdiri dari 3 bagian
1.Konjungtiva palpebra atau konjungtiva tarsalis.
2.Konjungtiva forniks.
3.Konjungtiva bulbi.

Konjungtiva palpebra
Hubungannya dengan tarsus sangat erat. Gambaran dari glandula Meibom yang ada didalamnya tampak membayang sebagai garis sejajar berwarna putih. Permukaan licin, di celah konjungtiva terdapat Henle (gambar 1). Histologis : terdiri dari epitel silindris. Dibawahnya terdapat stroma dengan bentuk adenoid dengan banyak pembuluh getah bening.
Konjungtiva forniks
Strukturnya sama dengan konjungtiva palpebra. Tetapi hubungan dengan jaringan dibawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan lekukan juga banyak mengandung pembuluh darah. Oleh karena itu mudah terjadi pembengkakan bila terdapat peradangan mata. Dengan kelok-keloknya konjungtiva ini, pergerakan mata lebih mudah. Dibawah konjungtiva forniks superior terdapat glandula lakrimal utama dan glandula Krause (gambar 1). Melalui konjungtiva forniks superior juga terdapat muara saluran airmata.
Konjungtiva bulbi
Tipis dan tembus pandang, meliputi bagian anterior bulbus okuli. Dibawah konjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Strukturya sama dengan konjungtiva palpebra tetapi tidak mempunyai kelenjar. Dari limbus, epitel konjungtiva meneruskan diri sebagai epitel kornea. Didekat limbus internus, konjungtiva bulbi membentuk plika semilunaris yang mengelilingi suatu pulau kecil terdiri dari kulit yang mengandung rambut dan kelenjar yang disebut “caruncle”.1,3,8
Perdarahan
Berasal dari A. konjungtiva posterior dan A. siliaris anterior. Yang berasal dari A. siliaris anterior berjalan kedepan mengikuti M. rektus, menembus sclera dekat limbus untuk mencapai bagian dalam mata juga memberi cabang-cabang yang mengelilingi kornea dan memberi makanan kepada kornea antara kedua arteri ini terdapat anastomose.
Persarafan
Berasal dari N.V(I) yang berakhir sebagai ujung-ujung yang lepas terutama di bagian palpebra pembuluh getah bening terdapat banyak sekali.1,3,8
Histologi
Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, diatas karankula dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel skuamosa. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ketepi dan di perlukan untuk disversi lapisan airmata secara merata di seluruh prekornea. Sel sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa stratum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai bayi berumur 2 atau 3 bulan lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
Kelenjar airmata asesori (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks atas dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar Wolfring terletak ditepi atas tarsus atas.3
Tahap awal konjungtivitis vernalis ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini akan tamapak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang di tutup oleh satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta diantara papil serta pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel-sel PMN, eosinofil, basofil dan sel mast. Tahap berikutnya akan dijumpai sel-sel mononuclear seperti limfosit makrofag. Sel mast dan eosinofil yang dijumpain dalam jumlah besar dan terletak superficial. Dalam hal ini, hamper 80% sel mast dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam mambuktikan peran sentral sel mast dalam kasus konjungtivitis vernalis. Keberadaan eosinofil dan basofil, khususnya di dalam konjungtiva, sudah cukup menandai adanya abnormalitas jaringan. Proliferasi limfosit akan membentuk beberapa nodul limfoid. Sementara itu, beberapa granula eosinofilik dilepaskan dari sel eosinofil, menghasilkan badan sitotoksik yang berperan dalam kekambuhan konjungtivitis.
Fase vaskuler dan seluler dini akan segera di ikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasi jaringan ikat meluas keatas membentuk giant pupil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Kolagen maupun pembuluh darah akan mengalami hialinisasi. Epiteliumnya berproliferasi menjadi 5 – 10 lapis sel epitel yang edematous dan tidak beraturan. Sering dengan bertambah besarnya pupil , lapisan epitel akan mengalami atrofi di apek sampai hanya tinggal satu lapis sel yang kemudian akan mengalami keratinisasi. Serbukan sel, serta proliferasi dan akumulasi serabut kolagen dan fibrosa tersebut memberika gambaran penebalan menonjol dari permukaan konjungtiva tarsalis yang di namakan cobble stones.
Pada limbus juga terjadi transformasi patologis yang sama berupa pertumbuhan epitel yang hebat meluas, bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel (acanthosis). Homer-Trantas dot’s yang terdapat didaerah ini sebagian besar terdiri atas eosinofil, debriseluler yang terdeskuamasi, nemun masih ada sel PMN dan limfosit serta proliferasi jaringan kolagen dan fibrosa yang semakin bertambah. Didalam ulkus kornea non infeksi pada kasus keratokonjungtivitis vernalis dapat ditemukan Kristal Charcot Leyden yang merupakan granula eosinofil dan plak mukoid.1,11-14
II.4. Pasok darah, Limfe dan Persarafan
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dari lapisan superficial dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga membentuk pleksus limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama N.V. saraf ini hanya relatif mempunyai sedikit serat nyeri.3
II.5. Patofisiologi
Kehadiran allergen pada konjungtiva mengakibatkan stimulasi dua sistem imun. Yang pertama akan melepaskan mediator radang seperti histamin dari mast sel dan yang lainnya akan mengeluarkan prostaglandin. Ini merupakan reaksi yang cepat kira 8-24 jam. Allergen yang masuk akan diikat oleh Ig E yang merupakan antibody dan mengakibatkan degranulasi dari sel mast. Degranulasi tersebut akan mengeluakan histamine,bradikinin, prostaglandin, dan lain-lain. Mediator yang lepas dari sel mast, histamine dan bradikinin, akan segera merangsang nosiseptoryang mengakibatkan rasa gatal. Keduanya juga meningkatkan permeabilitas vascular dan vasodilatasi sehingga timbul mata merah dan injeksi konjungtiva. Sementara itu mediator lain yang lepas dari sel mast akan mengeluarkan signal kimia yang menarik sel darah putih dan sel darah merah ke daerah yang terkena. Ketika sel-sel ini sampai mereka akan mudah mencapai permukaan konjungtiva karena pelebaran pembuluh darah dan peningkatan permeabilitas kapiler.5,7
Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang interstitial yang banyak didomonasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I. Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemia dan vasodilatasi difus, yang akan cepat diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan yang menghasilkan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti oleh hyalininsasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobblestone. Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan, sehingga konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofil papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang menghasilkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel kornea.1
Limbus konjungtiva juga menunjukan perubahan akibata vasodilatasi dan hipertropi yang menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas dan kuantitas stem cells limbus. Kondisi yang terakhir ini mungkin berkaitan dengan konjungtivalisasi pada penderita konjungtivitis dan di kemudian hari berisiko timbulnya pterigium pada usia muda. Disamping itu terdapat kista-kista kecil yang dengan cepat akan mengalami degenerasi.1
(bersambung ke Konjungtivis vernal bagian 2)

pencarian yang hadir:

pathway konjungtivitis,konjungtiva anemis,pengertian konjungtiva anemis,lp konjungtivitis,konjungtiva anemis adalah,anemis adalah,resume konjungtivitis,laporan praktikum pengambilan darah vena,definisi konjungtiva anemis,laporan kasus konjungtivitis,pengkajian konjungtivitis,pengertian anemis,enterohepatik adalah,contoh soap mastitis,konjungtivitis vernal pdf,konjungtiva anemis artinya,askep kista konjungtiva,contoh askep konjungtivitis,jurnal konjungtivitis,woc pterygium,makalah konjungtivitis,patway konjungtivitis,Lp pterigium,patofisiologi ptosis,farmakologi konjungtivitis,makalah askep konjungtivitis,lp injeksi iv,konjungtivitis pdf,askep konjungtivitis,anamnesis konjungtivitis,laporan kasus konjungtivitis vernal,woc ptosis,patofisiologi konjungtivitis vernalis,pembahasan post sc,kti konjungtivitis bakteri,referat konjungtivitis vernal,adenopati preaurikuler,patofisiologi konjungtivitis,pembahasan tentang masa perdarahan,contoh laporan kasus konjungtivitis vernal,latar belakang darah kapiler,lesi patologis,askep kasus konjungtivitis,latar belakangnya post sc,referat pterigium,konjungtivalisasi,makalah konjungtivitis vernalis,askep konjungtiviti,askep abses palpebra,cysta conjungtiva,contoh kasus konjungtivitis,letak konjungtiva,laporan pendahuluan febris vomiting,laporan pendahuluan dan askep peb,referat keratokonjungtivitis,patofisiologi cob,latar belakang post sc,latar belakang penyakit kelamin,konjungtiva anemis arti,konjungtivitis vernal meningkatnya immunoglobulin apa,pemeriksaan patologi klinik feses,konjungtivitis vernalis,macam macam kerato konjungtivitis,woc konjungtiva,patofisolologi ptosis,patogisiologi ptosis,pemeriksaan klinik feses,pembahasan kista konjungtiva,patologis ngt,patoflow bbl,pdf makalah tentang studi kasus penyakit klamidia,pemeriksaan pergerakan bakteri,woc patofisiologi ptosis,terapi askep konjungtiva,resume kista Konjungtivitis,[pdf] jurnal penyakit keratokonjungtivitis vernalis,refrat pterigium,referat tentang konjungtivitis vernal,referat ptosis,referat konjungtivitis,refarat pterigium,prognosis keratokonjungtivitis,presus keratokonjungtivitis,presus bayi patologis,referat bowen tumor konjungtiva,pengertian konjungtiva anemis pdf,pendaluan klamidia,pendahuluan ptosis,pendahuluan patologi keperawatan,wocpterygium,patofisiologi sc dengan peb,definisi palpebra,free jurnal keratokonjungtivitis,gambar patofisiologi post sc,kasus hipersensitifitas,keratokonjungtivitis prognosis,KERATOKONJUNGTIVITIS REFERAT,keratokonjungtivitis vernalis pdf,kista konjungtiva etiologi,definisi konjungtiva non anemis,definisi cobblestone,artikel konjungtivitis pdf,artikel pengertian anemis,artikel pengkajian pterigium,askep konjungtiva kronis,askep konjungtivis 3 tahun terakhir,askep pitosis,cobblestone definisi,contoh laporan pendahuluan pathway stroma,konjungtiva pucat artinya apa?,konjungtiva vernal adalah,macam keratokonjungtivitis,macam-macam keratokonjungtivitis,mekanisme terjadinya anemis dan anemia pada konjungtiva,obat tradisionalpenyakit mata konjungtivis vernalis,konjungtivitis vernal reaksi hipersensitifitas tipe,patofisiologi dan pathway pterygium,patofisiologi dari konjungtiva,patofisiologi konjungtiva anemis,lp konjungtivitis pada anak pdf,latarbelakang konjungtivitis,konjungtivalisasi adalah,konjungtivitis referat pdf,konjuntiva tarsalis,kumpulan kasus konjungtivitis vernalis,LAPORAN PENDAHULUAN C0B,laporan pendaluan cob,latar belakang kasus peb,conjungtivalisasi,adenopati pre-aurikuler adalah

Response on "Konjungtivis vernal bagian 1"