Tuesday, 21 October 2014

EFUSI PLEURA, Gangguan Sistem Pernapasan: Pola Napas Tidak Efektif

Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada sekitan 50-60% penderita keganasan pleura primer atau me-tastatik, Sementana 95% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura.

Efusi pleura keganasan memiliki dua sifat yang khas, yaitu cairan pleura lazim berwarna merah (hemoragik) dan pada umumnya cepat terbentuk kembali setelah diaspirasi. Oleh karena itu, jumlah cairan pleura biasanya banyak, sehingga mengakibatkan pendorongan mediastinum ke arah sisi yang sehat.

Efusi pleura adalah penimbunan cairan di dalam rongga pleura akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari per-mukaan pleura. Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakatrtanda suatu penyakit. Pada keadaan normal, ronggapleura hanya mengandung sedikit cairan se-banyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada pleura parietalis dan viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan antara permukaan kedua pleura pada waktu pernafasan

Penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan efusi pleura adalah tuberkulosis, infeksi paru non-tuberkulosis, keganasan, sirosis hati, trauma tembus atau tumpul pada daerah Ada, infark paru, serta gagal jantung kongestif. Di negana-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di negara-negana yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi tuberculosis
Alasan dari penulis memilih kasus ini karena penulis belum pernah mendapatkan kasus tersebut dan tertarik untuk mengambil kasus tersebut.

STUDI PUSTAKA
EFUSI PLEURA

A. PENGERTIAN.
Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura, cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi.

Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura, yaitu :
1. Cairan serus (hidrothorax)
2. Darah (hemothotaks)
3. Chyle (chylothoraks)
4. Nanah (pyothoraks atau empyema)

1. Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura)
Biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah:
a. pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura
b. kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura
c. gangguan pembekuan darah. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna, sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang.
2. Empiema (nanah di dalam rongga pleura)
Bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. Empiema bisa merupakan komplikasi dari:
a. Infeksi pada cedera di dada
b. Pembedahan dada
c. Pecahnya kerongkongan
d. Abses di perut
e. Pneumonia
3. Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada)
Kilotoraks disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor.
Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid.

B. DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan. Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml, biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi, pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak, auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun, dan vocal fremitus yang menurun.

Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut:
1. Rontgen dada
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan.
2. CT scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor.
3. USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
4. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).
5. Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.
Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.
6. Analisa cairan pleura
Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan di konfirmasi dengan foto thoraks. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml, sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam.
7. Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.

Bila efusi pleura telah didiagnosis, penyebabnya harus diketahui, kemudian cairan pleura diambil dengan jarum, tindakan ini disebut thorakosentesis. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti:
1. Komposisi kimia seperti protein, laktat dehidrogenase (LDH), albumin, amylase, pH, dan glucose.
2. Dilakukan pemeriksaan gram, kultur, sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri
3. Pemeriksaan hitung sel
4. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan

Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri, emboli paru, sirosis hepatis. Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura. Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru, pneumonia bakteri, infeksi virus, dan keganasan

C. ETIOLOGI
Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri, emboli paru, dan sirosis hepatis, sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri, keganasan (ca paru, ca mammae, dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker), infeksi virus.
Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia. Selain TBC, keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE), perdarahan (sering akibat trauma). Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus, penyakit pancreas, abses intraabdomen, rheumatoid arthritis, sindroma Meig (asites, dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium).

D. GEJALA
Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali.Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:batuk, cegukan, pernapasan yang cepat serta nyeri perut.

E. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura, apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis, dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan.

BAB III
STUDY KASUS

Nama    :
Hari/Tanggal    :     Senin, selasa
A. pengkajian
1. Biodata
a. Biodata pasien
Nama         :
Alamat         :
Umur         :
No.RM        :
Jenis kelamin     : laki laki
Agama         :
Tanggal RMS    :
b. Biodata penangung jawab
Nama            : Ny.
Hubungan dengan klien    : Ibu
2. Riwayat penyakit
a. Keluhan Utama         : Sesak napas .
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD dalam kondisi BAB tidak lancar, makan sedikit, perut kembung kadang-kadang menggiggil, BAK tidak lancar, Sklera Tampak Ikterik, ekstremitas bawah edema sudah satu minggu, TD; 100/70 mmhg, N: 64x/mnt, RR: 24x/mnt dan T: 37,3C.
c. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah mengalami penyakit yang serius sebelumnya, belum pernah dirawat dirumah sakit dan pernah sakit tapi sembuh dg berobat ke puskesmas.
d. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada penyakit menular ataupun penyakit turunan dalam keluarga Sdr. W.
.
3. Pengkajian primer
a) Breath
o RR = 20 x/menit
o Bunyi nafas bronkovesikuler.
o Penggunaan otot bahu pernafasan +( Sternokleidomastoideus).
o Terpasang O2 via nasal kanul 5l/mnt.
o Suara paru vesikuler.
o Tidak ada sekret
b) Blood
o Nadi 65 x/menit
o TD 110/70 mmHg
o suhu 37 C
o Bunyi jantung reguler, S1dan S2.
o CRT <2 detik
o Konjungtiva anemis
o Akral hangat.
o Warna kulit pucat
o Sklera ikterik.
c) Brain
o Tingkat kesadaran = CM  (GCS = E4 M5 V5)
o Pupil = isokor +2mm/+2mm
o Rangsang cahaya = +/+

d) Bladder
o Terpasang DC no:16
o warna urine kuning kemerahan.
o Urine 500cc
e) Bowel
o BAB -.
o Bentuk abdomen datar, simetris, hipertimpani.
o Mual/muntah -
f) Bone
o Ekstemitas atas
Kanan terpasang infuse D5%
Ada edema pada ekstremitas atas.
o Ekstremitas bawah
Kanan = edema +
Kiri = edema +
2. Pengkajian Kesehatan Fungsional (Virginia Handerson)
a) Pernafasan
o Sebelum sakit
Klien bernafas spontan tanpa alat bantu nafas, pola nafas reguler.
o Saat sakit
Klien bernafas dengan batuan O2 via nasal kanul 5l/mnt, bunyi nafas bronkovesikuler, menggunakan otot bantu penafasan.

b) Nutrisi
o Sebelum sakit
Klien makan 3x sehari. Menu makanan sehari-hari dengan nasi, sayur, dan lauk pauk (tahu, tempe dll)
o Saat sakit
Klien makan dengan bantuan perawat.
c) Eliminasi
o Sebelum sakit
Klien tidak mengalami kesulitan BAB
o Saat sakit
Semenjak sakit dan setelah masuk ICCU klien belum BAB.
d) Aktivitas
o Sebelum sakit
Klien biasa beraktifitas sesuai dengan kemampuanya sebagai anak laki-laki di rumah. Setiap hari klien beraktivitas mandiri tanpa bantuan orang lain.
o Saat sakit
Klien tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa, klien hanya bisa tidur dan Semua aktivitas harian klien dibantu oleh perawat.
e) Tidur dan Istirahat
o Sebelum sakit
Klien biasa tidur 7-9 jam sehari yaitu tidur malam pkl 22.00-04.00 WIB.
o Saat sakit
Klien bisa tidur namun sering terbangun.

f) Berpakaian
o Sebelum sakit
Klien memakai pakaian sendiri tanpa bantuan orang lain.
o Saat sakit
Selama di ICCU klien di bantu oleh perawat.
g) Personal Hygiene
o Sebelum sakit
Klien mandi 2 kali sehari dan gosok gigi sehari minimal 2 kali sehari, dan keramas minimal seminggu sekali.
o Saat sakit
Klien mandi 1 kali sehari dan di bantu perawat.
h) Aman dan Nyaman
o Sebelum sakit
Klien nyaman saat bersama keluarga.
o Saat sakit
Klien harus sendirian di ruangan tanpa ditemani keluarga dan pemenuhan kebutuhan dibantu oleh perawat tapi pasien tetap merasa nyaman.
i) Komunikasi
o Sebelum sakit
Klien tidak mengalami gangguan dalam berkomunikasi.
o Saat sakit
Klien terlihat kecapaian saat berkomunikasi

.
j) Keyakinan dan Nilai
o Sebelum sakit
Klien seorang muslim, klien biasa menjalankan ibadahnya.
o Saat sakit
Klien tidak dapat beribadah seperti biasa selama di ICCU

5. Pemeriksaan Fisik
a) Kesadaran        :  composmetis  (GCS =  E4 V5 M5)
b) Kepala        : Bentuk mesocepal
o Kulit kepala    : tidak ada lesi, cukup bersih
o Mata        : reaksi cahaya +/+, konjungtiva ananemis, sklera ikhterik, pupil isokor 2mm/2mm.
o Hidung    : sedikit serumen
o Mulut        : Bau khas, bersih.
o Telinga    : Bersih, serumen ada.
c) Leher        : tidak ada pembesaran tiroid dan ada distensi vena jugularis +3 mm.
d) Toraks        : Bunyi jantung normal S1 dan S2 tidak ada kardiomegali, suara napas bronkovesikuler, bentuk dada simetris, ada penggunaan otot bantu pernapasan.
e) Abdomen        : Tidak ada masa, ada hipertimpani.
f) Ekstrimitas    : Kekuatan otot ada di semua ekstremitasnya, eksremitas atas kanan terpasang infuse D5%, Edema di semua ekstremitas.
g) Genetalia        :  Tidak ada lesi, Terpasang DC no.16.
h) Kulit        : Akral hangat, turgor kulit baik, Warna Kulit Pucat.
i) Kuku        : kuku tangan dan kaki pendek dan bersih, CRT < 2 detik.

6. Pemeriksaan penunjang
a. laboratorium
No
Hari/tgl
Jenis pemeriksaan
Hasil
normal
ket
1

22/06/09

Hb
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
Protein total
Albumin
Globulin
Ureum darah
Kreatinin darah
GDS
Natrium
Kalium
Klorida
Kalsium
HBSag
15,2
8700
39
4,92
953.000
6,12
3,06
3,06
55,6
1,30
115
130
2,9
87
7,1
( – )
14-18
4.800-10.800

40-48
4-5

15.000-400.000
6,3-8,2

3,5-5,0
2,7-3,2

15-36,4
0,7-1,2
<200

137-145
3,5-5,1

95-107
8,6-10,4

Normal
Normal
Turun
Normal
Naik
Turun
Turun
Normal
Naik
Naik
Turun
Turun
Turun
Turun
Turun

7. Terapi
no
Hari/tgl
Nama obat
Dosis
Waktu pemberian

pa
siang
Sore
malam
1

Senin,

KSR
Digoksin
Lasix
Cefotaxim

2×1 tabl
1×1 tabl
3x 2 ampl
1x1gr
pa

si
12
16

so

20

24
2

Selasa,

KSR
Digoksin
Lasix
Cefotaxim

2×1 tabl
1×1 tabl
3x 2 ampl
1x1gr
pa

si
12
16

so

20

24

B. Analisa Data
No
Data
Pathway
Etiology
Masalah
1

2.

DS: pasien mengatakan sesak napas
DO:RR: 20x/mnt, ada pergerakan dinding dada, pucat, sklera ikterik dan konju gtiva anemis

DS : pasien mengatakan lemes, cape.
DO : RR 20x/mnt, pucat, terlihat lemah, TD; 110/80mmhg
N: 64x/mnt

Efusi pleura

pengembangan paru terhambat

hiperventilasi

kelemahan otot-otot pernapasan

pola napas tidak efektif

efusi pleura

pengembangan paru terganggu

O2 ke sel dan jaringan turun

metabolisme anaerob

energi turun

intoleransi aktifitas

Kelemahan otot-otot pernapasan

Suplai 02 ke sel dan jaringan tidak seimbang dengan kebutuhan

Pola napas tidak efektif.

Intoleransi aktifitas

3

Ds: pasien mengatakan cape sesudah beraktifitas.
DO: pasien terlihat lemah
Pasien tidak mampu untuk memenuhi keb ADL nya ( mandi, berpakean ).

Efusi pleura

Suplai O2 yang tidak seimbang

kelemahan

Ketidakmampuan untu merawat dirinya sendiri

Defisit perawatan diri
kelemahan
Defisit perawatan diri

C. Intervensi Keperawatan

Diagnosa
Kriteria Hasil
Intervensi
Ketidakefektifan pola nafas b. d kelelahan otot-otot pernapasan

Intoleransi aktifitas  b.d Ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan suplai O2

Defisit perawatan diri b.d kelemahan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatn 3×24 jam klien menunjukan pola napas yang efektif dengan kriterian hasil:
Status pernapasan yang tidak berbahaya. awal 2 tujuan 4.
Mudah dalam bernapas. awal 2 tujuan 4.
Tidak ada penggunaaan otot bantu pernapasan. awal 2 tujuan 5.
Mempunyai kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal. awal 2 tujuan 4.
Keterangan:
1: Ekstrem
2: Berat
3: Sedang
4: Ringan
5: Tidak ada gangguan
1. Intoleransi aktifitas yang biasa dilakukan ditunjukkan dengan daya tahan dan penghematan energi, penghematan energi yang ditandai dengan: menyeimbangkan antara aktifitas dan istirahat, pasien menyadari adanya keterbatasan energi.
2. menampilkan pengelolaan pemeliharaan dirumah dengan beberapa bantuan.
3. menampilkan aktifitas kehidupan sehari-hari dengan beberapa bantuan.
4. pasien mampu mengidentifikasi aktifitas/ situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktifitas

Setelah dilakukan perawatan diharapkan:
1. Menerima bantuan dari pemberi perawatan.
2. semua kebutuhan ADL pasien terpenuhi (makan, mandi dan berpakaian).
1. Pantau kecepatan, irama respirasi
2. Observasi adanya penggunaan otot bantu pernapasan
3. Auskultasi bunyi napas
4. Pantau pola pernapasan
5. Pantau supali O2
6. Pantau peningkatan kegelisahan

1. Evaluasi motifasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktifitas.
2. Pantau asupan nutrisi untuk memastukan keadekuatan sumber-sumber energi.
3. Pantau pola istirahat pasien dan lamanya waktu tidur.
4. Ajarkan tentang pengaturan aktifitas dan tehnik management waktu untuk mencegah kelelahan,
5. Kolaborasi dengan ahli terapi okupasi, fisik/ relaksasi untuk merencanakan dan memantau program aktifitas sesuai kebutuhan.
6. Rujuk pada ahli gizi untuk merencanakan makanan untuk meningkatkan asupan makanan yang tinggi energi.

1. Kaji kemampuan untuk menggunakan alat bantu
2. Pantau tingkat kekuatan dan toleransi terhadap aktifitas.
3. Pantau peningkatan dan penurunan kemampuan untuk berpakaian dan melakukan perawatan terhadap dirinya sendiri.

D. Implementasi
1. Ketidakefektifan pola nafas b.d kelelahan otot-otot pernapasan
No
Hari/Tanggal
Implementasi
Respon
1
Senin,
21.00

22.00

23.00

21.00

Memonitor TTV dan KU pasien

Mengauskultasi bunyi napas dan adanya bunyi napas tambahan

Mengevaluasi respon pasien terhadap pemberian O2

Memposisikan pasien untuk mengoptimalkan pernafasan

KU lemah, TD :100 /61 mmhg, N : 140 x/mnt, RR : 22x/mnt.

Bunyi nafas bronkovesikuler, tidak ada bunyi nafas tambahan

RR : 25x/mnt, masih ada penggunaan otot bantu pernafasan, tidak ada sianosis.

Posisi semi fowler
2.
Selasa,
21. 00

22.00

23.00

Memonitor KU dan TTV

Memantau kecepatan, irama, kedalaman dan adanya penggunaan otot bantu pernafasan.

Mengevaluasi respon pasien terhadap pemberian O2

KU lemah, TD : 90/61mmhg, N : 125x/mnt, RR : 25x/mnt, KU lemah.
RR : 32x/mnt, irama reguler,  ada penggunaan otot bantu pernafasan.

RR : 24x/mnt, tidak ada sianosis, masih ada penggunaan otot bantu pernafasan,  terpasang NRM
10L/mnt.
2. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara supali dengan kebutuhan O2.

No
Hari/tanggal
implementasi
respon
1

Senin,
21.00
06.30

22.00

23.00
Memonitor KU dan TTV

Membantu pasien memenuhi ADLnya (makan).

Menyarankan kepada pasien untuk jangan terlalu banyak bergerak
Memantau status oksigenasi pasien (pemenuhan oksigen)
KU lemah, TD : 94/61 mmhg, N : 140 x/mnt

Makan habis setengah porsi

Pasien beristirahat (tidur).

RR : 20x/mnt, penggunaan otot bantu berkurang, sianosis tidak ada.
2

Selasa,
22.00
06.00

23.00

24,00
Memonitor KU dan TTV

Membantu pasien memenuhi ADLnya (makan).
Memantau status oksigenasi pasien (pemenuhan oksigen)

Memonitor KU dan TTV
Pemberian obat
KU lemah, TD : 97/66mmhg, N : 114x/mnt, RR : 22x/mnt, KU lemah.
.
Pasien makan satu porsi
RR : 20x/mnt, penggunaan otot bantu berkurang, sianosis tidak ada.
KU lemah, TD : 99/69mmhg, N : 118x/mnt, RR : 25X/mnt.
Obat masuk

3. Defisit perawatan diri b.d kelemahan.
No
Hari/Tanggal
Implementasi
Respon
1
Senin,
06. 00

06.30

06.45

Memonitor TTV dan KU

Mengkaji kemampuan pasien untuk beraktivitas

Membantu makan

KU lemah, TD : 94/61 mmhg, N : 140 x/mnt, RR : 22x/mnt.

Pasien masih lemas, minta disuapin

Pasien habis setengah porsi minum 200cc
2
selasa,
21. 00

06. 15

06.45

Memonitor TTV dan KU

Membantu makan

Menyarankan untuk istirahat

KU lemah, TD : 122/95 mmHg, N : 83x/mnt, MAP : 105, RR : 29x/mnt, SaO2 : 94%, T : 37 C.
Makan masuk 2/3 piring, minum 200cc.

E. Evaluasi

No.
Hari/Tgl
DX kep
Evaluasi
1.

senin,

Ketidakefektifan pola nafas b.d disfungsi neuromuskular

Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan.

Defisit perawatan diri b.d gangguan neuromuskular.

S : -
O : RR 20x/mnt, penurunan penggunaan otot bantu pernapasan, terpasang O2 via nasal kanul 4l/mnt.
A : Masalah ketidakefektifan pola nafas teratasi
P : Intervensi di lanjutkan
1. Pantau status oksigenasi pasien
2. Memonitor TTV dan KU per jam
3. evaluasi respon pasien terhadap pemberian oksigen

S. : pasien mengatakan masih lemes, cape.
O: KU lemah, TD: 93/57mmhg, RR: 20x/mnt, N:130x/mnt, masih terlihat pucat
A.  Masalah Intoleransi aktifitas belum tertasi..
P.  lntervensi dilanjutkan.
1. batasi aktifitas klien
2. bantu setiap aktifitas yang akan dilakukan klien
3. penuhi kebutuhan O2 KLIEN

S: Pasien Mengatakan Masih Lemes, Cape
O:  GCS: 14, pasien belum mampu untuk melekukan aktifitas harina secara mandiri (makan)
A: Masalah defisit perwatan diri belum teratasi.
P: Intervensi dilanjutkan, bantu pasien dalan pemenuhan aktifitas harianya.

pencarian yang hadir:

pengertian efusi pleura,pathway efusi pleura,efusi pleura dextra,patofisiologi oksigenasi,laporan pendahuluan efusi pleura,lp efusi pleura,makalah efusi pleura,lp intoleransi aktivitas,yhs-004,abdomen supel adalah,woc konjungtivitis,patofisiologi gangguan oksigenasi,lp kardiomegali,efusi pleura sinistra,woc cva bleeding,askep efusi pleura pdf,woc efusi pleura,penentuan kadar albumin plasma,pengertian isokor,laporan kasus oksigenasi,pathway intoleransi aktivitas,lp oksigenasi,asuhan keperawatan hipoalbumin,pertanyaan tentang efusi pleura,sap efusi pleura,pengertian ekstremitas,pemeriksaan cairan lambung,leaflet efusi pleura,contoh kasus efusi pleura,dasar teori mikropipet,efusi pleura sinistra adalah,makalah pemeriksaan cairan limfe,reaksi pleura,pengertian neuromuskular,pathway kardiomegali,contoh askep oksigenasi,LP cairan dan elektrolit,definisi efusi pleura,contoh kasus oksigenasi,intervensi efusi pleura,pengertian ekstremitas kesehatan,arti efusi pleura,pathways snh,laporan kasus efusi pleura,contoh soap kasus endometritis,prosedur pemeriksaan cairan limfe,effusi pleura dextra,sistem neuromuskular,pathways ckr,pathway ca paru,laporan pendahuluan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit,askep apn,makalah mikropipet,pengertian syok listrik,pengertian efusi pleura dextra,definisi ekstremitas atas,pathway trauma tumpul abdomen,askep pada pasien kardiomegali,kti efusi pleura,efusi pleura dextra adalah,mesocepal,pengertian iccu,laporan kasus kolik abdomen,contoh kasus penyakit tbc,pathway kebutuhan nutrisi,pathway ca mamae,pathway defisit perawatan diri,skema patofisiologi efusi pleura,askep aneurisma,tumor mammae dx,KTI CA MAMAE,analisa data efusi pleura,woc aneurisma,hubungan ca mammae dengan efusi pleura,patway efusi pleura,contoh askep efusi pleura,effusi pleura sinistra,latar belakang peritonitis,pathway tumor mammae,macam gangguan neurovaskuler,biodata pasien,laporan kasus askep efusi pleura,gangguan pola nafas tidak efektif,patway snh,pengertian ekstremitas atas,pengkajian perforasi gaster,contoh laporan pendahuluan keseimbangan cairan dan elektrolit,pathway trauma mata,laporan pendahuluan pemenuhan kebutuhan cairan,contoh laporan kasus efusi pleura,pengertian bronkovesikuler,implementasi peritonitis,laporan kasus ge,pathway apendik,pengertian efusi,yhs-ddc_bd,pengertian efusi pleura sinistra,penyakit efusi pleura dextra,pengertian pola nafas tidak efektif,pengertian efusipleura,efusi pleura dekstra,apa itu efusi pleura dextra,etiologi pola nafas tidak efektif,bunyi nafas pada efusi pleura,bunyi nafas pada pasien efusi pleura,pengertian cairan pleura,contoh kti ca mammae,penyakit effusi pleura dextra,contoh pertanyaan tentang efusi pleura,Askep efusi pleura contoh kasus lengkap,askep kardiomegali kesehatan,apa pengertian dari pola napas tidak efektif,Pengkajian kardiomegali,penyebab pola nafas tidak efektif,arti efusi pleura dextra,apa arti efusi pleura,pertanyaan seputar efusi pleura,efusi pleura hemoragik,patofisiologi pola nafas tidak efektif,TBC tiroid,diagnosa keperawatan kardiomegali,efusi pleura deztra,gangguan pleura,pleura sinistra,askep SLE pola nafas tidak efektif,mengapa efusi pleura mengakibatkan pola nafas tidak efektif,manifestasi klinis pola nafas tidak efektif,pathway perawatan diri,pathway pola nafas tidak efektif,efusi fleura sinistra,minimal pleural effusi dextra,effusi pleura minimal dextra,jenis pola dan suara pernapasan,effusi pleura dextra adalah,implementasi ketidakefektifan pola nafas,patoflodiagram efusi pleura,pathway massa intra abdomen,laporan pendahuluan efusi pleura pdf,pengertian effusi pleura dextra,gangguan pola nafas,pengebab pola napas kurang efektif,laporan pendahuluan pola nafas tidak efektif,pathway hemotoraks,makalah ganguan sistem pernapasan emyema,makala efusi pleura,ketidakefektifan pola nafas b d kelemahan otot pernafasan,kasus 32 minggu,pathway ca buli,fathway tumor abdomen,diiagnosa pola napas tidak efektif dengan efusi pleura,arti efusi pleura kiri,pngertian efusi pleura,askep efusi pleura dextra,tanya jawab efusi pleura,contoh askep tumor tiroid sinistra,pertanyaan efusi pleura,arti dari efusi pleura,reaksi pleura adalah,bunyi napas pada efusi pleura,bunyi nafas pasien efusi pleura,contoh kasus sistem pernafasan,contoh kasus gangguan pernafasan,contoh kasus askep efusi pleura,bunyi nafas efusi pleura,apa yang dimaksud dengan pola napas tidak efektif,contoh anamnesis pada efusi pleura,dx efusi pleura,pengertian pleura,askep efusi pleura sinistra,contoh anemis,suara nafas pada pasien efusi pleura,pleura dextra,pertanyaan dan jawaban tentang penyakit gangguan pleura,Apa itu effusi pleura sinistra?,contoh kasus penyakit efusi pleura,powerpoint pengertian gangguan sistem pernafasan akibat infeksi pneumonia tb pleura effusi empiema,pola-pola efusi pleura,powerpoint gangguan sistem pernafasan akibat infeksi pneumonia tb pleuraeffusi empiena,pleuro dextra,pathway keletihan otot pernapasan,pola respirasi sebelum sakit dan setelah sakit,pathway tbc efusi pleura,pathway tb paru dengan efusi pleura,pleural reaksi adalah,pathway pola tidur,www askep tentang efusi pleura,pngertian intoleransi aktifitas,pathway pada ca paru dextra,pola aktivitas sehari hari gangguan oksigenasi pola makan,pneumoni GCS turun,pola nafas tidak efektif cva bleeding,pleura efusi dextra,proses pasien sesak nafas efusi pleura,Pengertians effuse pleura,tanya jawab tentang efusi pleura,tb paru sinistra dengan efusi pleura dextra,tuberculosis bronkovesikuler,pathway Ca buli-buli,warna urine efusi pleura,woc effusi pleura akibat ca paru

Response on "EFUSI PLEURA, Gangguan Sistem Pernapasan: Pola Napas Tidak Efektif"